Tuesday, December 12, 2017

Mengenang Encing Benyamin Sueb

Oleh: Ekky Imanjaya

Sebagian dari tulisan ini dimuat di majalah Matra edisi September 2004,
Tulisan ini dimuat dalam buku A to Z about Indonesian Film"

Image may contain: 1 person
"Gue mau dong rekaman kayak penyanyi beneran" ungkap Benyamin Sueb kepada Harry Sabar, di tahun 1992. Maka, bersama Harry Sabar, Keenan Nasution, Odink Nasution, dan Aditya, jadilah band Al-Haj dengan album Biang Kerok. Inilah band dan album terakhir Benyamin. "Di lagu itu, entah kenapa, Ben menyanyi seperti berdoa, khusuk.Coba saja dengar Ampunan," jelas Harry, sang music director. "Mungkin sudah tahu kalau hidupnya tinggal sebentar," imbuhnya. Memang betul, setelah album itu keluar, Benyamin sakit keras, dan rencana promosi ditunda-dan tak pernah lagi terwujud kecuali beberapa pentas. Di album ini, Benyamin menyanyi dengan "serius". Tetapi, lagi-lagi, seserius apa pun, tetap saja orang-orang yang terlibat tertawa terpingkal-pingkal saat Benyamin rekaman lagu I’m a Teacher dan Kisah Kucing Tua dengan penuh improvisasi. Sementara lagu Dingin Dingin Dimandiin dan Biang Kerok bernuansa cadas. Dan Ampunanmu kental dengan progressive rock, diantaranya nuansa Watcher of the Sky dari Genesis era Peter Gabriel.
Yang menarik, masih menurut Harry, saat Benyamin menonton Earth, Wind, and Fire di Amerika-saat menjenguk anaknya yang kuliah disana-dia langsung komentar:"Nyanyi yang kayak gitu, asyik kali ye?", dan nuansa itu pun hadir di beberapa lagu di album itu, salah satunya dengan sedikit sentuhan Lady Madonna dari The Beatles.
Agaknya semua media sudah memuat profil, prstasi, dan kelegendarisan sang Ikon betawi ini.. Lantas, apa yang tersisa. Ape ye yang tersisa dari budayawan betawi yang wafat 5 September 1995 ini?
Seniman asli Betawi kelahiran Kemayoran, 5 Maret 1939 ini main film dengan judul yang menjual namanya--sedikit sekali film di Indonesia yang menjual nama bintangnya, tercatat diantaranya Benyamin, Bing Slamet,Ateng, dan Bagyo. Judulnya, antara lain Benyamin Biang Kerok (Nawi Ismail, 1972), Benyamin Brengsek (Nawi Ismail, 1973), Benyamin Jatuh Cinta (Syamsul Fuad, 1976), Benyamin Raja Lenong (Syamsul Fuad, 1975), Benyamin Si Abunawas (Fritz Schadt, 1974), Benyamin Spion 025 (Tjut Jalil, 1974), Traktor Benyamin (Lilik Sudjio, 1975), Jimat Benyamin (Bay Isbahi, 1973), dan Benyamin Tukang Ngibul (Nawi Ismail,1975).Dia juga main di film seperti Ratu Amplop (Nawi Ismail, 1974), Cukong Blo'on (Hardy, Chaidir Djafar, 1973),Tarsan Kota (Lilik Sudjio, 1974),Samson Betawi (Nawi Ismail, 1975), Tiga Janggo (Nawi Ismail, 1976)--,Tarsan Pensiunan (Lilik Sudjio, 1976), Zorro Kemayoran (Lilik Sudjoi, 1976). Sementara Intan Berduri (Turino Djunaidi, 1972) membuat dirinya, dan Rima Melati, meraih Piala Citra 1973, selain karena Si Doel Anak Modern yang digarap Sjuman DJaya.
Benyamin juga membuat perusahaan sendiri bernama Jiung Film--diantara produksinya Benyamin Koboi Ngungsi (Nawi Ismail, 1975)--bahkan menyutradarai Musuh Bebuyutan (1974) dan Hippies Lokal (1976).
Tetapi, jangan salah, Encing Ben tidak menjadi bintang utama di setiap filmnya. Seperti layaknya semua orang,ada proses dimana Encing Ben "hanya" menjadi figuran atau paling mentok actor pembantu. Dalam hal ini, paling tidak ada dua nama yang patut disebut, yaitu Bing Slamet dan Sjuman Djaya. Walau sudah merintis karir sebagai "bintang film" lewat film perdananya, Banteng Betawi (Nawi Ismail,1971) yang merupakan lanjutan dari Si Pitung (Nawi Ismail, 1970), tetapi kedua nama besar itulah yang mempertajam kemampuan akting Encing BenDalam "berguru" dengan Bing Slamet, Benyamin tidak saja bekerja sama dalam hal musik-seperti dalam lagu Nonton Bioskop dan Brang Breng Brong. Tapi dalam hal film pun dilakoninya. Terlihat dengan jelas, di film Ambisi (Nya Abbas Acup, 1973) -sebuah "komidi musikal" yang diotaki oleh Bing Slamet-Benyamin menjadi teman sang actor utama, Bing Slamet menjadi penyiar Undur-Undur Broadcasting. Di film ini, sudah terlihat gaya "asal goblek" Encing yang penuh improvisasi dan memancing tawa. Di sini, dia berduet dengan Bing Slamet lewat lagu Tukang Sayur. Tetapi, sebenarnya, setahun sebelumnya, Encing Ben juga diajak ikutan main Bing Slamet Setan Djalanan (Hasmanan, 1972). Karena itulah, saat sahabatnya itu wafat pada 17 Desember 1974, Encing Ben tak dapat menahan tangisnya.Dengan Sjuman Djaya, Encing Ben diajak main Si Doel Anak Betawi (Sjuman Djaya, 1973).
Dirinya menjadi ayah si Doel, yang diperankan oleh Rano Karno kecil. Perannya serius tapi, seperti stereotipe orang Betawi, kocak dan tetap "asal goblek".
Adegan terdasyat film ini adalah saat pertemuan antara abang-adik yang diperankan olehs Benyamin dan Sjuman Djaya sendiri, terlihat ketegangan dan kepiawaian akting keduanya yang mampu mengaduk-aduk emosi penonton. Talenta itu direkam oleh ayah dari Djenar Maesa Ayu dan Aksan Syuman, dan dua tahun kemudian Encing Ben pun main film sekuelnya, Si Doel Anak Modern (Sjuman Djaya, 1975). Kali ini Encing Ben menjadi bintang utamanya, dan meraih Piala Citra!Yang menarik, lebih dari dua puluh tahun kemudian Rano Karno membuat versi sinetronnya. Castingnya nyaris sama: Rano sebagai Si Doel, Benyamin sebagai ayahnya-selain theme songnya dan settingnya yang hanya diubah sedikit saja.
Lagi-lagi Encing Ben menjadi actor pendukung, tapi kehadirannya sungguh bermakna.Sebenarnya ada satu lagi film yang dirinya bukan aktor utama, tetapi sangat dominan bahkan namanya dijadikan subjudul atawa tagline: Benyamin vs Drakula. Film itu adalah Drakula Mantu, karya si Raja Komedi Nyak Abbas Akub tahun 1974). Film bergenre komedi horor itu "memaksa" Encing Ben beradu akting dengan Tan Tjeng Bok, si actor tiga zaman.Begitulah, meski beberapa pernah tidak "menjabat" sebagai actor utama, tetapi kehadirannya mencuri perhatian penonton saat itu.
Tidak selamanya kegiatan Encing Ben ada di dunia seni budaya. Encing Ben selepas dari SMA Taman Madya Jakarta (1958), melanjutkan ke Akademi Bank Jakarta, tapi tidak tamat.
Anak bungsu yang pernah bercita-cita menjadi pilot-tapi dilarang ibunya-itu pernah juga Krusus Lembaga Pembinaan Perusahaan dan Pembinaan Ketatalaksanaan (1960), Latihan Dasar Kemiliteran Kodam V Jaya (1960), Kursus Administrasi Negra (1964). Pernah juga jadi pedagang roti dorong, Kondektur Bus trayek Lapangan Banteng-Pasar Rumput (1959), Bagian Amunisi Peralatan AD (1959-1960), Bagian Musk Kodam V Jaya (1957-1969), dan Kepala Bagian Perusahaan Daerah Kriya Jaya (1960-1969).
Tapi, semua itu tidak membuatnya surut untuk menjadi seorang entertainer sejati di Indonesia. Sebab, baginya: "Kepuasan adalah suatu kemunduran". Sepertinya, Indonesia masih saja kehilangan sosok Encing Benyamin yang wafat 5 September, 9 tahu lalu. Indonesia masih saja mencari sosok budayawan yang menghibur sekaligus mendidik bangsa.Jadi, tepat dong kalau, mengutip salah satu kaosnya: "Wanted: Benyamin Sueb, Biang Kerok!"

Sayup-sayup, dari salah satu stasiun swasta, terdengar Encing Ben bernyanyi sendu tapi tetap mengundang tawa di film Tiga Djanggo:
"Djanggo pintar pintar bodo
Djanggo tidak suka baso
Djanggo suka ngangon kebo
Djanggo kalau tidur ngigo"
(eimanjaya@yahoo.com)

Tuesday, September 5, 2017

Mengapa Film Warkop DKI Reborn Menarik Minat Banyak Penonton?

link: Mengapa Film Warkop DKI Reborn Menarik Minat Banyak Penonton?



Saya diwawancara Tempo soal fenomena Warkop Reborn 2 yang menembus angka 2 juta penonton dalam 5 hari saja.

Saya diwawancara panjang lebar, termasuk membahas soal nostalgia dalam konteks film cult (mass cult, cult blockbuster) termasuk soal kutipan (seperti ditekankan oleh Umberto Eco saat membahas Casablanca) dan memakai referensi2 adegan film warkop dan film lain (Seperti Rhoma Irama), tapi sayangnya tidak muncul.

Apa perlu saya tulis sendiri aja kali ya? :)


Sunday, August 20, 2017

Coming Soon: Pengabdi Setan (Satan's Slave) remake!

One of my most anticipated Indonesian movies, beside Wiro Sableng: the remake of Pengabdi Setan (Satan's Slave), directed by one of my favorite Indonesian directors, Joko Anwar.
Coming Soon: 28 September 2017.




Official trailer:



Teaser1:


teaser 2:



Thursday, July 27, 2017

Wanted: a research assistant for a film project on Exploitation Cinema in the Philippines

Wanted: a research assistant for a film related project.

Topic: Exploitation Cinema in the Philippines.

We are doing a research project that compares exploitation cinema of the Philippines (1960s-1980s) with that made in Indonesia (1970s-1990s) under authoritarian government. We are exploring the parallels and connections between the two industries as well as the differences. Researchers are Dr. Thomas Barker (University of Nottingham Malaysia Campus) and Ekky Imanjaya (University of East Anglia/Bina Nusantara University).

A representative list of Filipino titles we are interested in can be found here: http://imdb.filim2.site/list/ls003478019

We need assistance to:
1. Find information in Filipino sources that discuss exploitation production in the Philippines. E.g. how it was framed and discussed in relation to 'mainstream' film production; the presence of American producers/talents; morality and film content; relationship to the Marcos regime; interviews with filmmakers; and other topics.
2. What connections (if any) between Philippines production and Indonesia? Focus on the 1982 Manila Film Festival Market; and other connections e.g. talent, capital, inspiration, genre, themes, etc.
3. Details of any Indonesian films distributed/screened in the Philippines.
4. Details of government support for 'exploitation' films.
Work scope:
Research and collect relevant materials - newspaper articles, archival materials, films.
Provide written summary of key texts, events, and information.
Arrange interviews with relevant figures.
Assist and accompany Researcher to conduct interviews (one week in September/October)

Requirements:
Able to work independently
Attention to detail
Bilingual (Tagalog and English)

Preferable: Prior experience/knowledge of Filipino cinema.

Work period: 3 months (August 15 to Nov 15)
Payment: at prevailing RA rates.

Please send cover letter with CV to Thomas.Barker@nottingham.edu.my and E.Imanjaya@uea.ac.uk by August 10.

Monday, July 3, 2017

Indonesia’s Three Sisters Movies, Cultural Importance, and the Legacy of Challenging the Society (Chinese and English version)

 By Ekky Imanjaya
(For English version of unedited article, please scroll down).

Notes: 
It is always an honor to know that our works are translated into other languages (other than English). 
Once, a film magazine in Berlin translated one of my popular writing into Germany back in 2013. And recently, Taipei Film Festival asked me to write an article on "Tiga Dara" (1957) and "Ini Kisah Tiga Dara" (2016), and they translated the article into Chinese.  The Chinese version of this article were published in a catalog of Taipei Film Festival (29 June- 15 July 2017).
Here's the files the final version of the articles (in Chinese and English).


                                       
In 2016, two important Indonesian films were publicly circulated. They are interconnected and have almost the same titles: Tiga Dara (Three Sisters, Usmar Ismail, 1956)  was re-released in August and Ini Kisah Tiga Dara (Three Sassy Sisters, Nia Dinata, 2016) was circulated a month later in the same year. Both films have their own cultural importance in their own time and have similar spirit of challenging the society with the issues of women’s social status in Indonesian society, particularly the marriage culture and issues of finding husbands.

It is worth to note that, in particular cultures in Indonesia, women should marry in certain age. If she is still single, after “the deadline”, let’s say after 30, she will get social pressure to get married as soon as possible, and get bad stereotype of just being single. Surely, as time goes by, the perspective has changed as social values also constantly change.  By watching both films, audience can compare and contrast how society has developed and  the differences between generations farther away, namely between the conservative/old-fashioned one and liberal/permissive one.
Below, I will elaborate why both films are important as social archive in Indonesian context. And probably non-Indonesia audience can reflect and produce their own meaning towards the films with their own culture values and perspectives.

Tiga Dara: Cultural Importance

Tiga Dara was recently fully restored and publicly screened in the cinema in Indonesia.  Although It is not the first film that got full restoration--the first one would be Usmar Ismail’s Lewat Djam Malam(After Curfew, 1954), which was also screened at 2012 Cannes Classic--but Tiga Dara  is the first Indonesian film which got 4K restoration.  In fact, it is the first Asian film to be restored in 4K format—the second one would be Akira Kurosawa’s Seven Samurai.
Similar with After Curfew, Tiga Dara was restored by    L'Immagine Ritrovata, Bologna, Italy. It took around $220,000 to restore the film, sponsored by SA Films from Indonesia. Two Indonesian citizens, Lintang Gitomartoyo and Lisabona Rahman, were involved in this process.  The Lab was chosen because it is the only studio to be able to deal with a tropical mold normally found in celluloid from tropical lands, such as vinegar syndrome. It took 8 months to do the process.
After the restoration, PT Render Digital Indonesia converted the 35mm into 4K digital. The film has 150 thousands frames and each frame took 2 hours to be converted into 4K digital format in 53 Gigabyte. In total, there are 12 Terabyte files and the process took another 6 months to do the digital conversion.
Actually, in 2011, the film was in process of restoration by EYE Museum Amsterdam, almost the same time with After Curfew, but being abandoned due to the economy crisis of the country, until SA Films took over the process. 
The film was theatrically and domestically released in August 2016 and got around 30 thousands spectators in 8 weeks. Soon, the movie will be released in DVD and Blu-ray.
Tiga Dara was chosen to be fully restored in 4K because it is considered as one of important cultural heritage in film format, both as text and context.
First of all, Tiga Dara, in very popular and entertaining way, questions the patriarchal culture which was dominated the 1950s era. The director Usmar Ismail, known as the Father of Indonesian Cinema, critically raises some issues regarding women rights and social status and marriage. In the movie,   there are some topics regarding the bad stereotype towards unmarried young women as well as their roles in domestic sectors.  It is important to note that the film was originally produced, distributed, and exhibited nationwide only 12 years after Indonesia’s independence, when the numbers of illiterate citizens dominated the nation.  Later, the idea of feminism and progressive women would occur in few of Usmar Ismail’s later films, particularly in Ananda (1970), his last movie.
These kinds of issue are still relevant even in a millennial era, and still echo in some recent Indonesian films, including Ini Kisah Tiga Dara (see below).
Of course, Ismail also put great songs, involving best composers and singers and that led to the timeless and jazzy ear-catchy songs. Big names such as Sjaiful Bachrie, Ismail Marzuki, Sam Saimun, and Bing Slamet were part of the soundtrack and music scoring team. In 1957 Indonesian Film Festival, the film got Citra Awards-Indonesia’s equivalent of Oscar—for the Best Music.
Related to historical importance, Tiga Dara was the trendsetter in the 1950s.    It was a box office film, premiered at Capitol Theater and screened in prestigious movie-theatres associated as the outlet of A-class Hollywood and other imported movies for 8 weeks in a row. At that time, it was very rare for an Indonesian movie to be screened in the A-class movie-theatres. In addition, President Soekarno, an American cinema fan,    asked the producer to screen the film at the Presidential Palace for a private birthday party of Hartini, his beloved wife. In society, the film was one of the most discussed films of the 1950s.   The social and cultural impact of the film in the era is inevitable. There was a Tiga Dara contest which attracted many young girls and boys. Afterwards, there were some products using Tiga Dara as their brands, from soft-drinks to batik clothing companies.
In addition, the film got imported to Malaysia, Italy (including 1959 Venice Film Festival), Yugoslavia, New Guinea, and Suriname.
 We can also consider the film as a “time machine”. Therefore, we can have access to and understand the zeitgeist of Jakarta and Bandung in mid 1950s, and even we can watch the development of the capital city (particularly the Cilincing picnic scene) and social life and social problems in the era.

The Legacy of Tiga Dara

The resonance of Tiga Dara is strong, even in today’s film scenes. There are at least two films in the 1980s which were influenced by the film, namely Tiga Dara Mencari Cinta (Three Girls Finding Love, Djun Saptohadi 1980) and   Pacar Ketinggalan Kereta (Prickly Heat, Teguh Karya, 1989),
For a more recent case, we have Three Sassy Sisters. A month after the re-released of Tiga Dara, Ini Kisah Tiga Dara was theatrically released in September 2016.  The female director Nia Dinata remembers that she watched Tiga Dara on TVRI (the only TV station at that time) as one of the first Indonesian musical films she watched. As a director and producer who constantly make films about women rights and equality (such as Berbagi Suami/Love For Share in 2006 and Perempuan Punya Cerita/Chants of Lotus in 2007),  she was interested in making similar film. However, Nia Dinata explains that Ini Kisah Tiga Dara is not a remake of Tiga Dara, but it is “inspired by” the classical film.

The film has many similarities to the classic one. The basic plot and story is similar, about three sisters being raised by a grandmother and a single father and face the problems of marriage culture and women’s rights, as well as sibling rivalries towards a man.  The focus of main storyline is also about the grandma who does many things to patiently “force” her oldest grand-daughter to marry as soon as possible, and problems develop from that situation.  It is also musical, and includes Tiga Dara theme song. In fact, the Indonesian title is a line of the lyrics of Tiga Dara theme song.
However, of course there are some differences. Dinata, with Lucky Kuswandi, wrote the script in   2016, thus with different context and social problems, and more modern and contemporary approaches. Unlike the classic film, in this movie the three sisters got definite jobs (a chef, a PR and marketing staff, and a voluntary teacher for children, respectively) in their dad’s boutique hotel at the seaside of Maumere. The tension between   generations   gets stronger, particularly between the grandma (as the representation of conservative/traditional perspective) and the youngest one (the most liberal and aggressive one).  Discourses of feminism, patriarchism, matriarchism, inevitable became more visible than the classic one.
Since the problems and era are different, Dinata put new songs in the movie as the means to communicate and express her voices. And, the whole spirit of the story was resumed in a song titled Matriarch.  The new songs and arrangement were done by music directors, Aghi Narottama and Bemby Gusti and, unlike the classic film, sung by the original cast.
The strong    aggressiveness of the main young characters (particularly the youngest one) has led the Indonesian censorship board to classify the film as adult movies (only for 21 years old and above).  Discourses of women empowerment more prominently occurs in this film.
The other different elements are the location and color format. The classic film is in black and white and located in Jakarta and Bandung.  The modern version has benefit to explore colorful culture and landscape of Maumere and Flores Island to support the director’s statements. So, the film invites us to take a journey to exotic places such as Geliting traditional market, a 118 years Old Portuguese church in Sikka village, Koka Beach, and Magepanda Mangrove Forest.
The film was screened in some film festivals, including Singapore, Tokyo, and Busan.

Conclusion
Tiga Dara was chosen carefully to be restored with a long and costly process exactly because it has a significant cultural importance back in the 1950s and its messages still resonate beyond millennial era. The film was a trendsetter in the 1950s popular lifestyle and  its discourses (gender issues, patriarchal culture, etc) seem to be timeless and are still relevant until recently.
And the legacy of challenging the society continues. Nia Dinata--a well-known feminist filmmaker who  consistently produces films on gender and women’s rights--capture, interpret and translate the classical film in the context of 2016 and directed Three Sassy Girls.  
Both films share similar ideas and spirit.  Both films are significant for  both Indonesia’s context and other nations and cultures which have similar problems and concerns.


Wednesday, May 24, 2017

" New Cinema History" dan Kajian Film Indonesia

Oleh Ekky Imanjaya
Mengapa, dibandingkan dengan resensi film,  masih sedikit tulisan, baik popular berupa laporan jurnalistik dan kritik film atau karya ilmiah, yang menganalisa sejarah bioskop/penonton, politik selera, atau mengkritisi  paradoks kebijakan film Indonesia? Mungkin salah satu jawabannya, karena pedekatan New Cinema History (NCH) kurang popular di Indonesia.

NCH adalah istilah yang diperkenalkan oleh Richard  Maltby. Dalam buku Explorations in New Cinema History:Approaches and Case studies (2011),  Maltby menyatakan bahwa tujuan Sejarah Sinema Baru adalah untuk “mempertimbangkan (pentingnya) sirkulasi dan konsumsi film, dan untuk menguji sinema sebagai situs pertukaran sosial dan budaya”. 

Mathijs dan Mendik dalam bukunya The Cult FilmReader (2008),  menyatakan ada dua pendekatan kajian sinema, yang bisa juga diterapkan secara umum.  Yang pertama adalah kajian teks atau pendekatan ontologis.  Kajian ini umumnya menerapkan teori esensialis dimana sang kritikus atau peneliti berupaya untuk mendefinisikan atau menganalisa elemen intrinsic dari film--seperti genre,   gaya,  sifat, atau akurasi estetika--serta mencari topik-topik yang berulang dan memaknai film sebagai upaya alegori, metafora, atau malah tujuan atau pesan  sineasnya.    Tak jarang, teori dan konsep dari ilmu susastra dan seni rupa mendominasi kajian ini, dan fokusnya pada estetika film.

Yang kedua adalah pendekatan sosiologis atau fenomenologis.  Kebalikan dari yang di atas, yang ditekankan adalah unsur ekstrinsik dari film, seperti yang dilakukan peneliti NCH.  Umumnya, pendekatannya adalah seputar penonton dan resepsi film, seperti moral panic, kontroversi dan  gangguan sosial kultural dalam masyarakat saat itu, hirarki selera, atau jaringan akses.  
Ciri-ciri khas dari kajian ini adalah upaya untuk mengambil sumber primer sebagai data-datanya--seperti berita-berita di koran dan  majalah,  resensi, produk undang-undang, karya-karya (apresiasi) penggemar. Jadi, tidak hanya mengutip dari tulisan atau pendapat akademisi, kritikus, atau jurnalis film, apalagi main comot dari situs maya tak jelas.   Menurut  James Chapman, Mark Glancy, dan Sue Harper dalam  The New Film History: Sources,Methods, Approaches (2007)¸ NCH melakukan investigasi empiris terhadap sumber primer yang berkaitan dengan produksi dan resepsi film   yang berfokus pada “dinamika kultural dari produksi film dan sebuah kesadaran bahwa gaya dan konten film tergantung dari konteks produksinya”.  Eric Schaeffer, penulis Bold! Daring! Shocking! True! : A History ofExploitation Films, 1919-1959 (1994), menyebut metode ini dengan “Empirical Imperative”. Kajiannya tidak lagi memperlakukan film sebagai teks atau  salah satu cabang kesenian atau refleksi masyarakat semata.  

Dalam pendekatan New Cinema History, arsip menjadi sumber primer dalam menganalisa. Salah satu contohnya adalah seperti di atas ini.

NCH  meretas jalan untuk pengembangan cabang kajian film lain,  yang lebih kontekstual dan berhubungan  dengan masyarakat dan hal-hal sosial budaya lainnya. Di antaranya, ekonomi politik, politik kebudayaan, politik selera, yang bisa mencakup kajian penonton, kajian konsumsi dan penerimaan film, kajian kebijakan film, dan budaya distribusi dan eksibisi. Biasanya, karena kayanya data primer dari era aslinya, banyak temuan-temuan baru yang jarang diketahui publik,  kadang mengejutkan, yang menambah bahkan, dalam beberapa kasus  bertentangan dengan yang umumnya dipercaya arusutama.
Di Indonesia, walau langka, tapi pendekatan NCH  ini bukan hal baru. Yang paling kentara adalah disertasi doktoral Tanete Pong Masak (1980-1989) yang baru saja diterbitkan menjadi Sinema Pada Masa Sukarno (2016). Di sini, Tanete memakai berita-berita di koran, termasuk yang paling murahan sekalipun, dan memperlakukannya sebagai data penting untuk mencari pola dan tren sosial budaya saat itu. 
Dafna Ruppin juga melakukan hal sama saat menginvestigasi  awal mula distribusi dan eksibisi film di nusantara. Tak hanya itu, dalam disertasinya, The Komedi Bioscoop: The emergence of movie-going in colonial Indonesia, 1896-1914 (2016),   dia dengan terang-terangan menyatakan terpengaruh Maltby.
Garin Nugroho dan Dyna Herlina, dalam  Krisis dan Paradoks Film Indonesia (2013) juga berupaya melihat film dan bioskop sebagai fenomena sosial budaya dan mengaitkannya dengan kejadian-kejadian besar di masing-masing era.
Hal-hal di luar film itu sendiri, yang acap disebut paratex atau inter-text, menjadi data penting untuk   mengetahui gambaran besar jiwa zaman kala itu, poster film, misalnya: materi promosi film di media, dan data-data seputar honorarium pemain film.

Dan, menariknya, arsip-arsip yang kita temukan, seperti skenario yang belum  diterbitkan dan synopsis awal,  juga memberikan analisa baru tentang dinamika sosial politik. Ben Murtagh, misalnya. Dalam  Researching in the Jakarta Film Archive, ia  mengungkapkan bahwa tak jarang dokumen berbeda dengan kenyataan, misalnya film Istana Kecantikan (1988)  tidak memasukkan adegan perkawinan sejenis, yang tercantum dalam skenarionya.  Saya juga merasakan hal yang sama saat memeriksa sejarah Orde Baru, yang katanya penuh dengan tekanan dan sensor terhadap film-film yang penuh adegan kekerasan dan esek-esek, namun di saat yang sama juga melahirkan banyak film-film eksploitasi bertema seks dan kekerasan, bahkan Orba membentuk Prokjatap Prosar (1982-1983) untuk secara resmi mengekspor film-film yang tak dianggap “film nasional” karena tidak merepresentasikan “wajah Indonesia yang sebenarnya” atau bersifat “kultural edukatif”

 

Tentu ada banyak kritikus, jurnalis, dan akademisi lain yang melakukan riset dengan pendekatan serupa. Beberapa nama lain di antaranya,  adalah   Thomas Barker,  SM Ardan, Misbach Jusa Biran,  dan, tentu saja   Krishna Sen.  

Walau demikian, masih sedikit karya, baik popular mau pun akademis, yang melakukan pendekatan sejarah baru ini, khususnya di bidang reception studies, fandom dan consumption studies. Semoga makin banyak yang menganalisa sejarah film dengan pendekatan semacam ini, dan memberikan kebaruan serta memperkaya teori dan kajian yang sudah ada.   

Tulisan versi editnya dimuat di buku acara Usmar Ismail Awards 2017 (April 2017).
Sumber arsip: Perpustakaan KITLV, Leiden, 2008.

Saturday, May 20, 2017

Unduh Gratis: Buku "Menjegal Film Indonesia"


Judul: Menjegal Film Indonesia: Pemetaan Ekonomi Politik Industri Film Indonesia
Tahun: 2011
Penerbit: Perkumpulan Rumah Film Indonesia dan Yayasan TIFA
Tim  Peneliti dan Penulis: Eric Sasono,  Ekky Imanjaya,  Ifan Adriansyah Ismail,  Hikmat Darmawan

Abstraksi:
Banyak orang tak percaya bahwa industri film Indonesia
sudah ada. Belum ada  infrastruktur, riset dan pengembangan
dan berbagai lembaga  dalam perfilman kita layaknya
yang ada pada sebuah kegiatan  industri. Jika pun ada, bisa
dibilang bahwa industri film  Indonesia masih berupa industri
rumahan; sebuah industri  berskala kecil ke menengah dan
dikerjakan tanpa hubungan  kerja yang jelas.
Inilah sebuah tinjauan yang  mencoba melongok lebih jauh
ke tiga subsektor dalam industri  perfilman kita (jika ada) yaitu  subsektor produksi, distribusi  dan eksebisi. Tidak seluruh  aspek memang dijelajahi  mengingat luasnya subyek ini.   Namun apa yang tergambar di  buku ini bisa menjadi awal bagi sebuah tinjauah lebih dalam  untuk memahami film, yang tak hanya merupakan barang  hiburan, tapi juga merupakan barang publik yang bersentuhan  dengan orang banyak lewat  berbagai cara.

link: https://drive.google.com/drive/folders/0B4N-Lj-NTlIlc2lxMTM2Ul9PRWs?usp=sharing
Alternatif link: https://www.academia.edu/33119861/Menjegal_Film_Indonesia_Pemetaan_Ekonomi_Politik_Industri_Film_Indonesia 

Resensi dan berita:
1. Peluncuran Buku Menjegal Film Indonesia (Filmindonesia.or.id)
2.  Ssst...Ada yang Menjegal Film Indonesia! (Detikhot.com)
3. Peta Awal Industri Film Indonesia - Gatra
4. Bedah buku Menjegal Film Indonesia: Pemetaan Ekonomi Politik Industri Film Indonesia (Bekraf.go.id)
Dissecting the Indonesian Film Industry