Thursday, March 30, 2017

Pete Tombs, Penjaga Taman Film Eksploitasi Indonesia

 Pete Tombs, Penjaga Taman Film Eksploitasi Indonesia
Oleh Ekky Imanjaya

Versi editnya dimuat di Trax Magazine, Maret 2009


Jika kita buka situs Mondomacabro DVD , kita akan lihat DVD Jaka Sembung alias The Warrior di rubrik coming soon. Di sini juga banyak film-film eksploitasi Indonesia. Berikut wawancara langsung dengan direkturnya, Pete Tombs.
Dimana kita bisa menonton film-film macam Sundel Bolong (Sisworo Gautama Putra, 1981), Bernafas dalam Lumpur (Turino Djunaidi, 1970), Beranak dalam Kubur(Awaludin, Alwi Shahab, 1972), atau Primitif (Sisworo Gautama, 1978), film pertamanya Barry Prima yang bertema kanibalisme? Mungkin bisa dicari di acara yang menanggap Layar Tancap, atau di Glodok. Tapi ada yang fenomena menarik. Film-film eksploitasi (cirinya:berbujet rendah dan mengeksploitasi kekerasan dan seks) macam di atas dianggap berstatus cult oleh penonton di dunia Barat. Artinya, ada ceruk ‘penonton fanatik setengah menghamba yang militan’ di Eropa dan AS. Bahkan film-film itu didistribusikan secara internasional oleh, di antaranya, MondomacabroDVD dan sedikit dari Troma Entertainment.
Silahkan saja klik 
Amazon.com, niscaya kita akan menemukan judul-judul The Queen of Black Magic (Ratu Ilmu Hitam, Lilik Sudjio, 1981), Ferocious Female Freedom Fighters (Perempuan Perempuan Bergairah, Jopi Burnama, 1982] , Lady Terminator (Pembalasan Ratu Laut Selatan, Tjut Djalil, 1988], Virgins From Hell (Perawan di Sarang Sindikat, Fred Wardy Pilliang, 1986), Tales of Voodoo, Vol. 1: Jungle Virgin Force (Perawan Rimba, Danu Umbara, 1982), The Devil's Sword (Golok Setan, Ratno Timoer, 1983, 1984)], Mystic in Bali (Leak, Tjut Djalil, 1980), dan Dangerous Seductress [Bercinta dengan Maut, Tjut Djalil, 1992]. Ada juga double features layaknya Grindhouse back to back seperti Tales of Voodoo, Vol. 2: Ghost Ninja / Primitives (Primitif, Sisworo Gautama, 1978), and Eastern Horror: Satan's Slave (Pengabdi Setan, Sisworo Gautama, 1980)/Corpse Master. Tajuk lain yang beredar adalah The Warrior (Jaka Sembung Sang Penakluk, Sisworo Gautama Putra, 1981), The Warrior against the Blind Swordsman (Jaka Sembung vs Si Buta, Dasri Jacob, 1983), Daredevil Commando (Komando Samber Nyawa, Eddy G Bakker, 1985), Rambu: Prince of Universe (Pembalasan Rambu, Jopi Burnama, 1985), 5 Deadly Angels (5 Cewek Jagoan, Danu Umbara, 1980), Jungle Virgin Force (Perawan Rimba, Danu Umbara, 1982), dan Snake Queen (Nyi Blorong, Sisworo Gautama Putra, 1982).

Salah satu figur penting di balik distribusi film-film akhir 1970an hingga awal 1990a itu adalah Pete
Tombs, pendiri dan pemimpin label Mondomacabro DVD. Dialah yang membuka akses cult-boy fans Barat menonton, di antaranya, Golok Setan, Jaka Sembung Ratu Ilmu Hitam, dan Leak. Tak hanya itu, ia juga pimpinan Boum Productions yang pernah membuat film dokumenter bertajuk “Indonesian Exploitation Cinema”.

“Awalnya, saya menulis buku Mondo Macabro (Mondo Macabro: Wierd and Beautiful Cinema around the World--EI) yang salah satu babnya membahas soal film Indonesia popular,” ungkap Pete kepada penulis lewat surat-e. Waktu itu, penulis buku Immoral Tales: Sex & Horror Movies 1956-184 bersama Cathal Tohill itu sudah mulai produksi video. “Setelah mengontak beberapa filmmaker untuk riset buku saya itu, sepertinya langkah berikutnya natural saja” ujar Pete yang pengalaman menonton pertamanya adalah Jaka Sembung dan seri Barry Prima lainnya, juga Leak dan Special Silencers.

Maka dibentuklah tim kurator. “Yang tersulit adalah mencari tahu pemilik hak edarnya, dan apakah pemegang itu masih punya materinya,” ungkapnya. Biasanya, Pete mentransfer film-film itu dari 35mm ke bentuk digital di Hong Kong dan Thailand. “Tapi akhir-akhir ini kami mengirim barang-barang itu ke Inggris karena hasilnya lebih baik. Tapi sangat mahal! Sebagian besar keuntungan kami dikeluarkan untuk memasarkan film-film itu. Gila!”.


Tapi mengapa film-film Indonesia termasuk yang mereka pilih? Bagi Pete, film-film jenis itu punya agenda untuk menghibur. Ciri khasnya: plot yang sederhana, cerita berbirama cepat, baik lawan buruk--dan biasanya yang baik menang. “Jangan lupa pengaruh jepang yaitu widescreen dan silat Hong Kong, bagi kami di Barat begitu sinematis. Dan, tentu saja mitologi yang dieksplorasi, semacam Ratu Laut Selatan dan Sundel Bolong, begitu baru dan sangat eksotis,” jelas pengedar film Aswang (Philiphina), Satanico Pandamonium (Meksiko), dan Diabolical Dr Z (Spanyol/Prancis) itu. Dibandingkan Jepang, film-film itu memang tidak menampakkan ketelanjangan yang polos atau seksi. Tapi tak sedikit darah muncrat dan nuansa gore. “Inilah kompensasi dari kurangnya ketelanjangan”. Dan, ini dia, saat itu, dibandingkan dengan India, Turki, dan Philiphina, secara teknis Indonesia menang.

Faktor lainnya adalah ketakterdugaan dan eksotisme yang lebih asyik dibandingkan film sejenis dari Jepang dan Hongkong. “cara bertuturnya solid, tidak sok cerdas atau sok posmo, dan hanya ingin menghibur” tegas Pete. Para pencinta film eksploitasi juga ingin tahu bagaimana subgenre seperti “perempuan dalam penjara” atau “monster” dipandang dari sudut pandang Indonesia.
adegan Ratu Ilmu Hitam
Pete tidak membedakan cara pemasaran film Indonesia dengan lainnya. Para penonton film cult yang sifatnya mencari sesuatu yang berbeda itu pun membelinya dan menyukainya. “Mereka mencari sesuatu yang biramanya cepat, agak gila, tapi sangat sinematis dengan bingkai widescreen yang layak, banyak adegan laga dan perilaku eksotis”. Yang paling laris manis adalah Virgins from Hell, disusul Lady Terminator. Saat ini, mereka pun sedang berencana memasarkan beberapa film eksploitasi klasik dari era 1980an. “Tapi, sekarang semakin susah mendekati para pemegang hak cipta untuk berbicara soal ini,” keluh produser yang sedang menggarap Killdroid itu.

Mengapa film klasik, dan bukan produksi terbaru? “Film-film klasik pas dengan identitas label kami. Dan materinya disyut dengan 35 mm dengan kualitas produksi yang baik. Film sekarang sangat berbeda dan kebanyakan terpengaruh film Jepang dan Korea terbaru, kebanyakan video dan terlihat agak murah. Tapi saya selalu tertarik untuk melihat film-film muktahir. Mungkin masalahnya karena mereka tidak punya appeal yang sama di luar negeri” ujar Pete seraya memuji beberapa filmmaker terkini yang sangat bagus. Kendalanya, terakhir Pete ke Indonesia adalah 10 tahun lalu, saat film sejenis ini mati suri, sebelum Jelangkung memulainya lagi. Jadi, belum banyak tahu judul yang cocok.

Pete mengamati pasar film horor sedang menjamur di Indonesia. Namun, ia mengingatkan kasus India di awal 1990an. “saat itu juga sedang tren, tapi para penonton terlalu capek dengan repetisi dan banyaknya film murah yang tidak menghibur”.

Produksi
Selain memasarkan, Boum Productions juga memproduksi film. Beberapa karyanya adalah seri Mondo Macabro episode Mexican Horror Movies (2002) dan Turkish Pop Cinema (2001), di samping juga video berjudul Settling the Score dan Hellish Creatures dua tahun lalu serta sebuah documenter horor spanyol bertajuk Blood and Sand (1999).

Tentu saja yang terpenting bagi penonton negeri ini adalah dokumenter Indonesian Exploitation Cinema yang menjadi fitur special DVD Virgins from Hell, namun beredar di Youtube dalam tiga bagian. Pete menggarapnya setelah menerbitkan buku Mondo Macabro. Sebuah pesanan membuat seri televisi ditawarkan padanya. Maka, mereka pun membuat delapan film untuk Channel 4 TV, Inggris. “Nah, bujet pembuatan itu membuat kami bisa mengunjungi Indonesia dan mewawancarai beberapa filmmaker dan aktor” ungkapnya. Dan betapa bahagia tak terkira saat ia bertemu Barry Prima dan Tjut Djalil. “Asisten kami, seorang perempuan yang baik dan mengorganisir segalanya dengan lancar. Kalau sempat melihat filmnya, terlihat nuansa politis yang kental. Imam Tantowi, dalam film itu, misalnya, menyatakan bahwa cerita-cerita sinema jenis ini adalah sebuah perlawanan terhadap ideologi Orde Baru secara halus, karena tak mungkin mengkritik secara terang-terangan.

Namun, ada satu hal yang disesalkan: tak sempat mewawancarai Suzanna. “Sudah dijadwalkan, tapi karena beberapa hal, dibatalkan,” curcol Pete. Tapi, ia bersyukur berhasil mewawancarai Inneke Koesherawati, salah satu sosok penting dalam film eksploitasi yang kemudian berjilbab, hal yang bisa menjadi tema diskusi menarik seputar peran perempuan di genre itu.

Produksi terkininya adalah Hell’s Ground (Zibahkhana, Omar Khan, 2007), film slasher Pakistan pertama. Film ini bisa dinikmati dalam Indonesia International Fantastic Film Festival November lalu. Ide itu hadir dari rekanan Mondo DVD di Pakistan. “Kami juga pemegang hak Zinda Laash (The Living Corpse), film drakula drakula Pakistan terkenal. Nah, idenya adalah menindaklanjuti film ini, namun akhirnya terwujud seperti Texas Chainsaw Massacre.

Bagaimana dengan berproduksi dengan filmmaker Indonesia? “Wah asyik tuh!” tutur Pete. “Itu adalah mimpi kami sejak pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia!”. Bagi Pete, Indonesia punya banyak bakat dan peluang. “Kami belum bertemu orang yang tepat. Tapi kami belum menyerah. You never know”. Semoga saja!

Versi editnya dimuat di Trax Magazine, Maret 2009
trims untuk Joko Anwar yang meminjamkan buku dan beberapa DVD Mondo Macabro